Aku dan kamu siapa ?

DubraKkk !!!
"sorry rin, aku nggak sengaja nabrak kamu, abis tadi kelihatan nggak ada orang yang berdiri disini  hahaha" celoteh seorang gadis berparas arab.
"iya, nggak apa-apa kok" jawabku singkat sambil membereskan buku yang berserakan dilantai.

          Kejadian ini bukan pertama kalinya aku alami, tapi itu bisa terjadi beberapa kali dalam sehari. Namaku Airin, ya hanya Airin saja, tapi kebanyakan dari sekelompok manusia yang mengenalku memanggil dengan sebutan Ririn. Aku bersekolah di SMA Katolik Purwadarminta, yang merupakan sekolah swasta pertama khusus bagi yang beragama katolik, yang terletak disebuah kota kecil Propinsi Kalimatan Utara, Kota Tarakan. 
          Ayah yang bekerja sebagai nelayan sedangkan Ibu bekerja sebagai buruh cuci keliling membuat keluargaku menjadi golongan keluarga miskin dikota kecil ini, apa lagi orang tuaku harus memenuhi kebutuhan 4 orang anaknya, dimana aku sebagai anak sulung sedang duduk dibangku SMA, nomor 2 Andila di bangku SMP, nomor 3 Afdal dibangku SD dan yang bungsu masih berusia 5 tahun Afriyan. Kehidupan ekonomi keluargaku terbilang sangat buruk, hanya saja tuhan memberkatiku dan Dila dengan otak yang terbilang cerdas, sehingga kami bisa menempuh pendidikan dengan bantuan beasiswa penuh. 

Teng... Teng... Teng...
            Suara bel tanda pelajaran pertama akan dimulai baru saja berbunyi, membuat segala lamunan tentang kerasanya kehidupan ekonomi keluargaku dibandingkan dengan orang-orang disekelilingku buyar seketika, Tapi semua itu tidak membuat semangatku untuk menuntut ilmu melemah, bahkan itu adalah alasan pertama aku memilih lebih banyak belajar dan membaca buku dari pada menghabis-habiskan waktu dengan gosip-gosip yang tak jelas. 

          Seperti biasa ketika guru masuk seluruh murit akan berdiri dan memberikan salam dipandu oleh ketua kelas, tapi hari ini setelah memberikan salam aku melihat ada seseorang yang berdiri disamping guru, murit baru. Gadis itu bertumbuh tinggi dan kurus, kulit putih, rambut panjang bergelombang dan berwajah manis dengan lesung pipit dikedua sisi mukanya, dia pindahan dari Jakarta. Mendengar dia menyebutkan bahwasanya dia berasal dari sebuah kota metropolitan, membuat aku menutup harapan sebuah pertemanan, hingga aku kembali fokus kepada buku pelajaran dan mengacuhkan keributan yang disebabkan oleh kehadiran siswi baru. 

"mana mungkin seorang gadis dari jakarta mau berteman dengan seorang siswi yang selama ini saja tidak pernah kelihatan" aku hanya mencoba menasehati diriku sendiri didalam hati.

***

Kriiiing.... Kriiiiing..... !!!
"Selamat datang pagi baru" kataku sambil mengusap kedua buah mata, berharap dapat mengingkirkan kotoran-kotoran yang ntah darimana asalnya.
"Non Ezi udah bangun ? buruan mandi, nanti kita sarapan sama-sama non" Terdengar suara lembut yang semakin menguatkan diriku untuk bangkit dari dunia kapuk.
"iyah bik, 10 menit lagi aku udah siap kok" jawabku lantang sembari meyakinkan seseorang yang sedang berdiri dibalik pintu.

          Hari baru, rumah baru, lingkungan baru, sekolah baru, seragam baru dan yang pasti kehidupan baru. Nama Feziani Putri, anak tunggal dari istri muda (simpanan) seorang pengusaha kaya-raya di jakarta, setidaknya itu yang aku ketahui tentang diriku. 15 tahun hidup di kota metropolitan dengan seorang ibu yang sama sekali tidak berprilaku layaknya seorang ibu telah menjadi kenangan yang cukup menyayat hati, fakta bahwa aku adalah anak dari istri simpanan seorang pengusaha kaya dan terkenal, membuat aku terpaksa diungsikan jauh kesebuah kota kecil di Propinsi Kalimatan Utara. Mungkin menurut ayah kandungku, aku adalah aib baginya, hingga aku perlu dijauhkan dari ancaman media yang bisa membuat reputasi ayahku menurun.

Pada awalnya, ibu berencana menjadikanku seorang model, yah tak bisa aku pungkiri bahwasanya secara fisik aku bisa saja terkenal dengan kemolekan tubuh dan wajahku, hanya saja isu bahwa ayahku memiliki istri simpanan telah menjadi gosip hangat saat ini, membuat kedua orang tuaku sepakat untuk menyembunyikanku beserta bukti-bukti pernikahan mereka. Kota Tarakan dipilih menjadi tempat persembunyian terbaik menurut mereka. 


Teng... Teng... Teng...
Suara bel tanda pelajaran pertama akan dimulai baru saja berbunyi, aku yang sedari tadi duduk diruang guru kini telah bangkit dan berjalan menuju ruang kelas mengikuti seorang guru yang mengaku akan menjadi wali kelasku setahun ini. Aku berdiri didepan kelas didampingi guru yang tadi berjalan didepanku, awalnya mereka memberi salam dan guru itu membalasnya, dan setelah itu raut muka bingung dan penasaran mulai terpancar dari masing-masing diantara mereka.

"ayo perkenalkan dirimu nak" instruksi guru disebelahku.
"Perkenalkan, Nama saya Feziani Putri biasa dipanggil Ezi, saya pindahan dari jakarta" aku pun memulainya dengan semanis mungkin, dan seisi ruangan mulai heboh dengan kehadiranku.
"Ngapain kok dari jakarta mau pindah kesini ?" Pertanyaan seorang siswi bermata sipit kepadaku.
"Ntuntutan pekerjaan orang tua" Jawabku singkat
"Manis banget, Udah punya pacar ? hehe" Tanya seorang siswa yang diikut sertakan dengan sorakan seisi kelas.
"Sudah, nanti kalian bisa lebih mengenal ketika jam istirahat" Untung saja guru sempat memotong acara perkenalan ini, "Ezi kamu bisa duduk di bangku kosong di sebelah Ririn" lanjut guru itu mengarahkanku pada tempat duduk paling belakang, disebelah siswi yang dari tadi sibuk dengan buku yang ada didepan matanya, setidaknya itu yang baru aku sadari.


Sembari berjalan menuju bangku paling belakang, aku layaknya seorang artis papan atas yang sedang berjalan dikarpet merah menuju bangku kehormatan, mereka sibuk tersenyum sambil menjulurkan tangannya padaku dan berkata “kenalkan namaku .....” terus menyebutkan mana serta statusnya disekolah baruku ini, ada yang ketua osis, pemain basket dan berbagai posisi penting yang mereka anggap sebagai point plus dari ketenaran mereka disekolah. Sadar bahwa aku telah menjadi tranding topik pembicaraan baru di kelas itu sama sekali tidak membuatku bangga dan menjadi sombong, malah aku semakin muak dengan apa yang mereka sebut ketenaran, mungkin karna aku sedikit trauma bertemu dengan sejumlah wartawan media yang mencoba mengorek sesuatu dari dalam diriku. Dan sesungguhnya pikiranku lebih tertarik kepada siswi yang sedang fokus membaca buku yang duduk disebelahku ini.

“Apa mungkin dia siswi yang sombong ? tapi kalau dilihat dari penampilanya toh biasa-biasa saja” Pertanyan-pertanya mulai meresap dalam kepalaku.

Share:

0 komentar