Dan Hujan Pun Berhenti

Happy Saturday guy's. 
          Hari ini tidak begitu panas dan juga begitu teduh, bisa dibilang cuaca hari ini agak begalaulah hihihi. Di hari yang galau ini, aku punya sesuatu yang ingin aku bagikan buat temen-temen semua. Sebuah novel karya Farida Susanty yang berjudul Dan Hujan Pun Berhenti...

"kamu mau bunuh diri ?"
"ya, asal tidak hujan..."

          Hal pertama yang menarik perhatianku saat melihat novel ini adalah percakapan singkat yang tertera pada cover buku ini. Walau pada awalnya tulisan percakapan itu tidak begitu jelas, karna warnannya yang tidak jauh berbeda dengan warna cover, tapi seketika menimbulkan banyak pertanyaan dalam benakku, sehingga membuatku antusias untuk membaca novel ini.

          Dalam buku ini bercerita tentang seorang anak laki-laki berkulit cokelat, bermata sipit, keturunan Indo-Jepang yang bernama Leo. Leo adalah anak orang kaya tapi memiliki hidup yang berantakan, baik dalam keluarganya, sekolahnya, kesehariannya, teman-teman, itu semua terjadi sejak sepeninggalan Iris, yaitu sahabatnya yang sangat mengerti leo dan satu-satunya orang yang ia percayai, disaat semua masalah dan penderitaan datang menghampirinya.

          Disisi lainnya seorang gadis kurus, tirus, berambut panjang menjuntai, dengan kulit sekusam pasir pantai bernama Spiza yang mencoba bunuh diri apa bila hari tidak hujan. Dia menggantungkan boneka-boneka teru-teru bozu, tradisi penangkal hujan khas Jepang, untuk menahan hujan agar dirinya leluasa menjalankan niatnya yaitu bunuh diri.

         Pertemuan mereka diawali saat Spiza sedang menggantungkan boneka teru-teru bozu di atas pohon halaman sekolah, dan berlanjud saat Leo menemukan Spiza di kamar mandi sekolah dengan bekas luka di pergelangan tangan serta lautan darah yang mengalir disekitarnya. Setelah hari itu terjadi hubungan yang aneh diantara mereka, semacam hubungan yang tidak teratur ritmenya, rasa benci dan cinta bercampur aduk menjadi satu didalamnya.

          Tema dari novel inipun tergolong menarik. cinta obsesib, kepercayaan, harga diri, rasa bersalah, kebencian, ketakutan semuanya bersatu dalam ritme yang seimbang. Karakter setiap tokok tidak ada yang sama dan dengan emosi yang berbeda juga, sehingga aku sendiri dapat merasakan emosi yang terpancar dari setiap tokoh dan adegannya. Alur yang menceritakan kejadian saat itu dan juga masa lalu membuat banyak berbagai rahasia-rahasia yang terungkap.

          Menurut aku, buku ini adalah buku yang asik buat di baca, dimana banyak dialog-dialok aneh yang bikin aku ngakak sendiri, seperti saat Leo menemukan Spiza yang sedang mencoba bunuh diri dikamar mandi.
"lo..... jadi bunuh diri ya?"
"ya" jawab Spiza lemah "lo megang ketas gue?"
" ya, gue udah baca" leo membuka kertas "Forgivenness? Apa elo bikin salah ?"
"ya, kesalahan kecil..... "
.................
"Oke, oke. Jadi, lo mau mati gini aja atau gue selametin ?" Ujar leo cepat-cepat.
"Sebaiknya elo pergi, " bisiknya sambil memandangi tangannya. "Sebentar lagi gue mati. Apa lo nggak apa-apa ? Pergi aja... "
          Tidak hanya dialog-dialog yang tidak normar tapi juga dialog-dialog isi hati masing-masing karater yang buas dan frontal, dan membuat novel ini bedan dengan novel-novel lainnya.

          

Share:

0 komentar